Halaman

    Social Items

Visit Namina Blog
Ada beberapa definisi tentang pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Slavin (dalam Rahayu, 1998:156) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut: ”cooperative learning methods share the idea that students work together to learn and are responsible for one anothers learning as well as their own”. Definisi ini mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan bertanggungjawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Perasaan saling bertanggungjawab ini sering di istilahkan sebagai “berenang dan tenggelam bersama”.

Artz dan Newman (dalam As’ari, 2002:1) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut: ”cooperatif learning is an approach that involves a small group of learnes working together as a team to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal”. Definisi ini mengandung pengertian bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan yang melibatkan kelompok-kelompok kecil untuk belajar bersama-sama sebagai tim untuk menyelesaikan suatu permasalahan, mengerjakan tugas atau mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Sedangkan Cohen (dalam Rahayu, 1998:156) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut: “cooperative learning will be defined as student working together in a group small enough that everyone can participate on a collective task that has been clearly assigned. Moreover, students are expected to carry out their task without direct and immediate supervision of the teacher”. Definisi ini mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama-sama dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan. Selain itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikan tugas tanpa petunjuk dan pengawasan guru secara langsung. Hal ini berarti bahwa guru berperan sebagai fasilitator dalam membimbing siswa menyelesaikan tugas yang diberikan.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang memberi kesempatan pebelajar untuk belajar bersama dalam kelompok kecil dimana masing-masing anggota bertanggung jawab terhadap keberhasilan diri dan kelompok.

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan sebelumnya,  pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran konvensional, karena dalam pembelajaran kooperatif terdapat lima komponen pokok, yaitu:
  1. Saling ketergantungan positif, Siswa harus merasa saling terikat antar sesama anggota kelompok. Mereka harus merasa tidak akan sukses bila siswa lain tidak sukses.
  2. Interaksi langsung antar siswa, Hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan cara adanya komunikasi antar siswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar, dan saling memberikan sumbangan pemikiran dalam pemecahan masalah. Selain itu siswa juga harus mengembangkan ketrampilan berkomunikasi secara efektif.
  3. Pertanggungjawaban individu, Setiap anggota kelompok bertanggungjawab untuk mempelajari materi dan bertanggungjawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
  4. Ketrampilan berinteraksi antar individu dan kelompok
  5. Keefektifan proses kelompok, Siswa memproses keefektifan kelompok belajar mereka dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak, dan membuat keputusan terhadap tindakan yang bisa dilanjutkan atau yang perlu diubah. Oleh karena itu, menurut Johnson dan Johnson (dalam As’ari, 2002:2) pembelajaran kooperatif ini akan efektif jika guru mampu menata dan mendorong.
Setelah memahami tentang definisi dan komponen-komponen pokok pembelajaran kooperatif, secara tidak langsung dapat diketahui pula manfaat-manfaat dari proses pembelajaran kooperatif. Menurut Anita Lie (dalam Anam, 2000:2) ada beberapa manfaat proses pembelajaran kooperatif, yaitu :
1. Siswa dapat meningkatkan kemampuannya untuk bekerjasama dengan siswa yang lain
2. Siswa mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghargai perbedaan
3. Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dapat meningkat
4. Mengurangi kecemasan siswa (kurang percaya diri)
5. Meningkatkan motivasi, harga diri dan sikap positif
6. Meningkatkan prestasi belajar siswa

Sampai saat ini sudah cukup banyak model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan . Diantaranya :
1. TGT (Team Games Tournament)
TGT dikembangkan oleh David de Vries dan Keith Edwards (Johnson and Johnson, 1991 :192) yang bekerja di John Hopkins University. Dalam pembelajaran ini, pembelajaran dimulai dengan penjelasan guru. Selanjutnya siswa belajar dalam kelompoknya, masing-masing kelompok akan mengadakan lomba dengan anggota kelompok lainnya. Pemenangnya memberi sumbangan poin bagi kelompoknya masing-masing. Berdasarkan perbandingan poin akan ditetapkan kelompok mana yang berhak memperoleh sertifikat atau penghargaan.

2. STAD (Students Team Achievement Division)
STAD adalah pengembangan dari TGT (Johnson & Johnson, 1991:192). Pada dasarnya, model ini sama dengan TGT hanya saja tidak ada lomba antar kelompok. Untuk mengukur keberhasilan belajar kelompok, kepada masing-masing siswa diberikan kuis secara individual dan anggota sesama anggota tidak boleh saling membantu dalam kuis ini. Selanjutnya hasil kuis ini dibandingkan dengan rata-rata pencapaian sebelumnya, dan poin sumbangan anggota kelompoknya ditentukan berdasarkan tingkat keberhasilan siswa mencapai atau melebihi kinerja sebelumnya.

4. TAI (Team Assisten Individualisation)
Di dalam TAI, materi yang dipelajari masing-masing anggota kelompok bisa berbeda-beda, yang penting antar anggota kelompok harus saling membantu untuk penguasaan materi itu.

5. GI (Group Investigation)
GI dikembangkan di University of Tel Aviv (Noornia, 1997:15). Model ini merupakan model yang sangat terstruktur. Ada enam tahapan, yaitu :
a. Identifikasi topik
b. Perencanaan tugas belajar
c. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan
d. Penyiapan laporan akhir
e. Presentasi hasil penyelidikan
f. Evaluasi

6. TPS ( Think Pair Share)
Model ini dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas of Mryland (Johnson & Johnson, 1991:194). Model ini memiliki tiga tahapan, yaitu :
  1. Think (berpikir), dimana siswa diminta untuk berpikir secara individual  terlebih dulu terhadap masalah yang diberikan guru.
  2. Pair, selanjutnya siswa membentuk pasangan (2 sampai 6 orang) untuk   berdiskusi tentang apa yang telah dipikir secara individual tadi.
  3. Share, setelah tercapai kesepakatan dalam kelompok, maka salah seorang mempresentasikan apa yang didiskusikan dalam kelompok.

7. CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
Sejenis dengan TAI, hanya lebih ditekankan pada pengajaran membaca, menulis dan tata bahasa.
Menurut Slavin (1995:12) meskipun ada banyak model pembelajaran kooperatif, tetapi pada dasarnya kesemua model itu mendasarkan pelaksanaannya pada beberapa dari enam karakteristik berikut.
a. Tujuan kelompok (group goals)
Tujuan kelompok digunakan oleh hampir semua pembelajaran kooperatif. Tujuan kelompok biasanya dikaitkan dengan usaha meraih penghargaan secara kelompok. Dalam hal ini penghargaan (reward) diberikan jika kelompok dapat mencapai kriteria penilaian yang telah ditetapkan dan disepakati sebelumnya.
b.Tanggung jawab individual (individual accountability)
Tanggungjawab individual berarti bahwa sukses kelompok bergantung kepada belajar individual dari setiap anggota kelompok. Dalam hal ini tanggungjawab terfokus pada anggota kelompok agar saling membantu dan memastikan bahwa setiap anggota kelompok siap untuk menghadapi kuis atau penilaian yang lain.
c. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan (equal opportunities for success)
Hal ini dapat dicapai dengan metode pemberian skor yang menjamin kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi kepada kelompok. Salah satu metodenya adalah penggunaan poin perkembangan untuk menentukan nilai kelompok.
d. Kompetisi kelompok (team competition)
Terjadinya kompetisi kelompok merupakan hal yang wajar-wajar saja. Rasa kompetitif yang muncul ini, bila diarahkan dengan baik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Biasanya, kompetisi kelompok ini tejadi karena timbulnya kebanggaan tersendiri apabila mendapatkan hasil yang terbaik atau bila mungkin mendapatkan poin tertinggi di dalam kelas.
e. Spesialisasi tugas (task specialization)
Spesialisasi tugas merupakan unsur kunci dari Jigsaw dan GI (Group Investigation) dan merupakan kewajiban individual dari setiap anggota kelompok
f. Adaptasi terhadap kebutuhan-kebutuhan individual (adaptation to individual needs)
Adaptasi terhadap kebutuhan-kebutuhan individual berarti bahwa terdapat pengakuan adanya perbedaan individual dan prestasi siswa sehingga siswa diarahkan untuk belajar pada tingkatan (level) mereka sendiri-sendiri. 


Metode Pembelajaran Kooperatif Model Team Assisted Individualization (TAI)
Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa. Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program matematika sesuai dengan kemampuan masing-masing. Artinya, dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2, si B mengerjakan unit 5. para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang teratur, mulai dari membaca lembar pembelajaran, mengerjakan lembar kerja, memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes. 

Anggota tim bekerja secara berpasangan, saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80, dia mengikuti final tes. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggungjawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam metode pembelajaran ini.

Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampaui.

Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston.
Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar, Jakarta. Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Felder, Richard M. 1994. Cooperative Learning in Technical Corse, (online), (Pcll\d\My % Document\Coop % 20 Report.
Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.
Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang.
KBBI. 1996. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin University Press.
Margono, S. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineksa Cipta.
Mursell, James ( - ). Succesfull Teaching (terjemahan). Bandung: Jemmars.
Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nur, Muhammad. 1996. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.
Purwanto, N. 1988. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosda Karya.
Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.
Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya Usaha Nasional.
Sudjana, N dan Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru.
Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Pembelajaran kooperatif

Pengertian supervisi 
Ada bermacam-macam konsep supervisi. Secara historis mula-mula diterapkan konsep supervisi yang tradisional, yaitu pekerjaan inspeksi, mengawasi dalam pengertian mencari kesalahan dan menemukan kesalahan dengan tujuan untuk diperbaiki. Namun dalam perkembangannya konsep supervisi mengalami perubahan, seperti yang dikemukakakan oleh beberapa ahli antara lain menurut Adams dan Dickey, dalam Sahertian (2000:17)  Supervisi adalah program yang berencana untuk memperbaiki pembelajaran. 

Menurut Boardman et al, dalam Sahertian (2000:17) mengemukakan supervisi sebagai suatu usaha untuk menstimulasi, mengkoordinasi dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru di sekolah individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam seluruh fungsi pembelajaran.

Pengertian Supervisi dan Tugasnya

Pengertian kita ketahui pendidikan merupakan tanggung jawab bersama baik itu keluarga, masyarakat dan negara. Didalam membicarakan masalah pendidikan kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian atau definisi dari pendidikan.

Tujuan Pendidikan Nasional
Menurut Umar Tirtaraharja dan La Sula bahwa pendidikan adalah suatu untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan akan datang (2000:263). Menurut M.J. Langeveld (Tim MKDK) bahwa pendidikan adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju ke arah  kedewasan dalam arti dapat berdiri dan bertanggung jawab atas segala tindakan-tindakan menurut puluhannya sendiri (1988:78).

Tujuan Pendidikan Nasional

Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan atau pengaruh tertentu kepada individu. (Oemar Hamalik, 2001-195). Lingkungan merupakan salah satu komponen pembelajaran yang sangat penting dan dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang. Lingkungan pembelajaran dapat dikelompokan sebagai berikut :
  1. Lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat baik kelompok besar atau kelompok kecil.
  2. Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya.
  3. Lingkungan alam (fisik) meliputi sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar.
  4. Lingkungan kultural mencakup hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sumber belajar dan yang dapat menjadi faktor pendukung pengajaran. Dalam konteks ini termasuk sistem nilai, norma dan adat kebiasaan.

Pengertian Lingkungan

Jumlah dan jenis media pembelajaran yang ada dewasa ini sangat banyak dan bervariasi, baik berapa media yang sengaja dirancang khusus untuk keperluan pembelajaran (by design) maupun yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran (by utilization). Yang sangat memungkinkan untuk diterapkan secara lebih luas yaitu pemanfaatan media pembelajaran yang sifatnya sederhana namun relevan dengan tujuan yang diharapkan.

Media pembelajaran yang sederhana dimaksudkan sebagai jenis-jenis media yang mudah dibuat, bahan-bahannya mudah diperoleh, sudah digunakan, serta sederhana meliputi, Jenis media visual terdiri dari :
-       Media gambar (still picture)
-       Kelompok media grafis
-       Media model dan realita.

Media sederhana ini sifatnya relatif yaitu tergantung kepada kondisi sekolah itu sendiri dan pemanfaatannya. Pemilihan media pembelajaran (sederhana) pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru untuk menentukan jenis media mana yang lebih tepat digunakan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran sifat materi yang akan disampaikan, strategi yang digunakan, serta evaluasinya.

Jenis Media Pembelajaran

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah berkaitan dengan pengunaan  intelegensi dari dalam diri individu yang berada dalam sebuah kelompok orang, atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan, dan kontekstual. Boud dan Feletti dalam Rusman (2011: 230)  mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah inovasi yang paling signifikan  dalam pendidikan. Dimana kurikulum Pembelajaran Berbasis Masalah sangat membantu untuk meningkatkan  perkembangan ketrampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif. 
1. Masalah, pedagogi, dan Pembelajaran Berbasis Masalah
Kekuatan masalah
Masalah dapat mendorong keseriusan, inquiry, dan berpikir dengan cara yang bermakna dan sanggat kuat (powerful). Pendidikan memerlukan perespektif baru  dalam menemukan berbagai permasalahan dan cara  memandang suatu masalah.

Konsep Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Solving)

Related Posts