Halaman

    Social Items

Visit Namina Blog
Ada beberapa definisi tentang pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Slavin (dalam Rahayu, 1998:156) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut: ”cooperative learning methods share the idea that students work together to learn and are responsible for one anothers learning as well as their own”. Definisi ini mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan bertanggungjawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Perasaan saling bertanggungjawab ini sering di istilahkan sebagai “berenang dan tenggelam bersama”.

Artz dan Newman (dalam As’ari, 2002:1) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut: ”cooperatif learning is an approach that involves a small group of learnes working together as a team to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal”. Definisi ini mengandung pengertian bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan yang melibatkan kelompok-kelompok kecil untuk belajar bersama-sama sebagai tim untuk menyelesaikan suatu permasalahan, mengerjakan tugas atau mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Sedangkan Cohen (dalam Rahayu, 1998:156) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut: “cooperative learning will be defined as student working together in a group small enough that everyone can participate on a collective task that has been clearly assigned. Moreover, students are expected to carry out their task without direct and immediate supervision of the teacher”. Definisi ini mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama-sama dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan. Selain itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikan tugas tanpa petunjuk dan pengawasan guru secara langsung. Hal ini berarti bahwa guru berperan sebagai fasilitator dalam membimbing siswa menyelesaikan tugas yang diberikan.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang memberi kesempatan pebelajar untuk belajar bersama dalam kelompok kecil dimana masing-masing anggota bertanggung jawab terhadap keberhasilan diri dan kelompok.

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan sebelumnya,  pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran konvensional, karena dalam pembelajaran kooperatif terdapat lima komponen pokok, yaitu:
  1. Saling ketergantungan positif, Siswa harus merasa saling terikat antar sesama anggota kelompok. Mereka harus merasa tidak akan sukses bila siswa lain tidak sukses.
  2. Interaksi langsung antar siswa, Hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan cara adanya komunikasi antar siswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar, dan saling memberikan sumbangan pemikiran dalam pemecahan masalah. Selain itu siswa juga harus mengembangkan ketrampilan berkomunikasi secara efektif.
  3. Pertanggungjawaban individu, Setiap anggota kelompok bertanggungjawab untuk mempelajari materi dan bertanggungjawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
  4. Ketrampilan berinteraksi antar individu dan kelompok
  5. Keefektifan proses kelompok, Siswa memproses keefektifan kelompok belajar mereka dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak, dan membuat keputusan terhadap tindakan yang bisa dilanjutkan atau yang perlu diubah. Oleh karena itu, menurut Johnson dan Johnson (dalam As’ari, 2002:2) pembelajaran kooperatif ini akan efektif jika guru mampu menata dan mendorong.
Setelah memahami tentang definisi dan komponen-komponen pokok pembelajaran kooperatif, secara tidak langsung dapat diketahui pula manfaat-manfaat dari proses pembelajaran kooperatif. Menurut Anita Lie (dalam Anam, 2000:2) ada beberapa manfaat proses pembelajaran kooperatif, yaitu :
1. Siswa dapat meningkatkan kemampuannya untuk bekerjasama dengan siswa yang lain
2. Siswa mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghargai perbedaan
3. Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dapat meningkat
4. Mengurangi kecemasan siswa (kurang percaya diri)
5. Meningkatkan motivasi, harga diri dan sikap positif
6. Meningkatkan prestasi belajar siswa

Sampai saat ini sudah cukup banyak model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan . Diantaranya :
1. TGT (Team Games Tournament)
TGT dikembangkan oleh David de Vries dan Keith Edwards (Johnson and Johnson, 1991 :192) yang bekerja di John Hopkins University. Dalam pembelajaran ini, pembelajaran dimulai dengan penjelasan guru. Selanjutnya siswa belajar dalam kelompoknya, masing-masing kelompok akan mengadakan lomba dengan anggota kelompok lainnya. Pemenangnya memberi sumbangan poin bagi kelompoknya masing-masing. Berdasarkan perbandingan poin akan ditetapkan kelompok mana yang berhak memperoleh sertifikat atau penghargaan.

2. STAD (Students Team Achievement Division)
STAD adalah pengembangan dari TGT (Johnson & Johnson, 1991:192). Pada dasarnya, model ini sama dengan TGT hanya saja tidak ada lomba antar kelompok. Untuk mengukur keberhasilan belajar kelompok, kepada masing-masing siswa diberikan kuis secara individual dan anggota sesama anggota tidak boleh saling membantu dalam kuis ini. Selanjutnya hasil kuis ini dibandingkan dengan rata-rata pencapaian sebelumnya, dan poin sumbangan anggota kelompoknya ditentukan berdasarkan tingkat keberhasilan siswa mencapai atau melebihi kinerja sebelumnya.

4. TAI (Team Assisten Individualisation)
Di dalam TAI, materi yang dipelajari masing-masing anggota kelompok bisa berbeda-beda, yang penting antar anggota kelompok harus saling membantu untuk penguasaan materi itu.

5. GI (Group Investigation)
GI dikembangkan di University of Tel Aviv (Noornia, 1997:15). Model ini merupakan model yang sangat terstruktur. Ada enam tahapan, yaitu :
a. Identifikasi topik
b. Perencanaan tugas belajar
c. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan
d. Penyiapan laporan akhir
e. Presentasi hasil penyelidikan
f. Evaluasi

6. TPS ( Think Pair Share)
Model ini dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas of Mryland (Johnson & Johnson, 1991:194). Model ini memiliki tiga tahapan, yaitu :
  1. Think (berpikir), dimana siswa diminta untuk berpikir secara individual  terlebih dulu terhadap masalah yang diberikan guru.
  2. Pair, selanjutnya siswa membentuk pasangan (2 sampai 6 orang) untuk   berdiskusi tentang apa yang telah dipikir secara individual tadi.
  3. Share, setelah tercapai kesepakatan dalam kelompok, maka salah seorang mempresentasikan apa yang didiskusikan dalam kelompok.

7. CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
Sejenis dengan TAI, hanya lebih ditekankan pada pengajaran membaca, menulis dan tata bahasa.
Menurut Slavin (1995:12) meskipun ada banyak model pembelajaran kooperatif, tetapi pada dasarnya kesemua model itu mendasarkan pelaksanaannya pada beberapa dari enam karakteristik berikut.
a. Tujuan kelompok (group goals)
Tujuan kelompok digunakan oleh hampir semua pembelajaran kooperatif. Tujuan kelompok biasanya dikaitkan dengan usaha meraih penghargaan secara kelompok. Dalam hal ini penghargaan (reward) diberikan jika kelompok dapat mencapai kriteria penilaian yang telah ditetapkan dan disepakati sebelumnya.
b.Tanggung jawab individual (individual accountability)
Tanggungjawab individual berarti bahwa sukses kelompok bergantung kepada belajar individual dari setiap anggota kelompok. Dalam hal ini tanggungjawab terfokus pada anggota kelompok agar saling membantu dan memastikan bahwa setiap anggota kelompok siap untuk menghadapi kuis atau penilaian yang lain.
c. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan (equal opportunities for success)
Hal ini dapat dicapai dengan metode pemberian skor yang menjamin kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi kepada kelompok. Salah satu metodenya adalah penggunaan poin perkembangan untuk menentukan nilai kelompok.
d. Kompetisi kelompok (team competition)
Terjadinya kompetisi kelompok merupakan hal yang wajar-wajar saja. Rasa kompetitif yang muncul ini, bila diarahkan dengan baik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Biasanya, kompetisi kelompok ini tejadi karena timbulnya kebanggaan tersendiri apabila mendapatkan hasil yang terbaik atau bila mungkin mendapatkan poin tertinggi di dalam kelas.
e. Spesialisasi tugas (task specialization)
Spesialisasi tugas merupakan unsur kunci dari Jigsaw dan GI (Group Investigation) dan merupakan kewajiban individual dari setiap anggota kelompok
f. Adaptasi terhadap kebutuhan-kebutuhan individual (adaptation to individual needs)
Adaptasi terhadap kebutuhan-kebutuhan individual berarti bahwa terdapat pengakuan adanya perbedaan individual dan prestasi siswa sehingga siswa diarahkan untuk belajar pada tingkatan (level) mereka sendiri-sendiri. 


Metode Pembelajaran Kooperatif Model Team Assisted Individualization (TAI)
Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa. Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program matematika sesuai dengan kemampuan masing-masing. Artinya, dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2, si B mengerjakan unit 5. para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang teratur, mulai dari membaca lembar pembelajaran, mengerjakan lembar kerja, memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes. 

Anggota tim bekerja secara berpasangan, saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80, dia mengikuti final tes. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggungjawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam metode pembelajaran ini.

Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampaui.

Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston.
Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar, Jakarta. Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Felder, Richard M. 1994. Cooperative Learning in Technical Corse, (online), (Pcll\d\My % Document\Coop % 20 Report.
Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.
Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang.
KBBI. 1996. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin University Press.
Margono, S. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineksa Cipta.
Mursell, James ( - ). Succesfull Teaching (terjemahan). Bandung: Jemmars.
Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nur, Muhammad. 1996. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.
Purwanto, N. 1988. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosda Karya.
Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.
Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya Usaha Nasional.
Sudjana, N dan Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru.
Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Pembelajaran kooperatif

Pengertian supervisi 
Ada bermacam-macam konsep supervisi. Secara historis mula-mula diterapkan konsep supervisi yang tradisional, yaitu pekerjaan inspeksi, mengawasi dalam pengertian mencari kesalahan dan menemukan kesalahan dengan tujuan untuk diperbaiki. Namun dalam perkembangannya konsep supervisi mengalami perubahan, seperti yang dikemukakakan oleh beberapa ahli antara lain menurut Adams dan Dickey, dalam Sahertian (2000:17)  Supervisi adalah program yang berencana untuk memperbaiki pembelajaran. 

Menurut Boardman et al, dalam Sahertian (2000:17) mengemukakan supervisi sebagai suatu usaha untuk menstimulasi, mengkoordinasi dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru di sekolah individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam seluruh fungsi pembelajaran.

Pengertian Supervisi dan Tugasnya

Pengertian kita ketahui pendidikan merupakan tanggung jawab bersama baik itu keluarga, masyarakat dan negara. Didalam membicarakan masalah pendidikan kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian atau definisi dari pendidikan.

Tujuan Pendidikan Nasional
Menurut Umar Tirtaraharja dan La Sula bahwa pendidikan adalah suatu untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan akan datang (2000:263). Menurut M.J. Langeveld (Tim MKDK) bahwa pendidikan adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju ke arah  kedewasan dalam arti dapat berdiri dan bertanggung jawab atas segala tindakan-tindakan menurut puluhannya sendiri (1988:78).

Tujuan Pendidikan Nasional

Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan atau pengaruh tertentu kepada individu. (Oemar Hamalik, 2001-195). Lingkungan merupakan salah satu komponen pembelajaran yang sangat penting dan dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang. Lingkungan pembelajaran dapat dikelompokan sebagai berikut :
  1. Lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat baik kelompok besar atau kelompok kecil.
  2. Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya.
  3. Lingkungan alam (fisik) meliputi sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar.
  4. Lingkungan kultural mencakup hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sumber belajar dan yang dapat menjadi faktor pendukung pengajaran. Dalam konteks ini termasuk sistem nilai, norma dan adat kebiasaan.

Pengertian Lingkungan

Jumlah dan jenis media pembelajaran yang ada dewasa ini sangat banyak dan bervariasi, baik berapa media yang sengaja dirancang khusus untuk keperluan pembelajaran (by design) maupun yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran (by utilization). Yang sangat memungkinkan untuk diterapkan secara lebih luas yaitu pemanfaatan media pembelajaran yang sifatnya sederhana namun relevan dengan tujuan yang diharapkan.

Media pembelajaran yang sederhana dimaksudkan sebagai jenis-jenis media yang mudah dibuat, bahan-bahannya mudah diperoleh, sudah digunakan, serta sederhana meliputi, Jenis media visual terdiri dari :
-       Media gambar (still picture)
-       Kelompok media grafis
-       Media model dan realita.

Media sederhana ini sifatnya relatif yaitu tergantung kepada kondisi sekolah itu sendiri dan pemanfaatannya. Pemilihan media pembelajaran (sederhana) pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru untuk menentukan jenis media mana yang lebih tepat digunakan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran sifat materi yang akan disampaikan, strategi yang digunakan, serta evaluasinya.

Jenis Media Pembelajaran

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah berkaitan dengan pengunaan  intelegensi dari dalam diri individu yang berada dalam sebuah kelompok orang, atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan, dan kontekstual. Boud dan Feletti dalam Rusman (2011: 230)  mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah inovasi yang paling signifikan  dalam pendidikan. Dimana kurikulum Pembelajaran Berbasis Masalah sangat membantu untuk meningkatkan  perkembangan ketrampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif. 
1. Masalah, pedagogi, dan Pembelajaran Berbasis Masalah
Kekuatan masalah
Masalah dapat mendorong keseriusan, inquiry, dan berpikir dengan cara yang bermakna dan sanggat kuat (powerful). Pendidikan memerlukan perespektif baru  dalam menemukan berbagai permasalahan dan cara  memandang suatu masalah.

Konsep Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Solving)

Untuk mengupas suatu istilah tentu ada pendekatan makna dan arti dari kata tersebut, maka  definisi pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingka laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (Diknas,  2002: 14). Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa:
Pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu peoses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain. (Soetomo, 1993: 120).
Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.
Prestasi Belajar

Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar
Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. Yang dimaksud belajar yaitu perbuatan murid dalam bidang material, formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. Jadi belajar merupakan hal yang pokok. Belajar merupakan suatu perubahan pada sikap dan tingkah laku yang lebih baik, tetapi kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk.

Pembelajaran dan Prestasi Belajar

Matematika berkembang sesuai dengan perkembangan zaman peradapan dan kebutuhan dimana masyarakat berada. Orang-orang disekitar kita dahulu mengenal istilah matematika dengan nama ilmu pasti. Pemakaian istilah ini mengakibatkan timbulnya anggapan bahwa ilmu pasti adalah suatu ilmu yang tidak ada kurang lebihnya serta tidak pernah berubah lagi. Tetapi itu masih kurang tepat pengunaan kata ilmu pasti untuk matematika seakan akan membenarkan bahwa di dalam matematika semua hal sudah pasti kemudian orang cenderung untuk menggunakan istilah matematika, sebab dengan belajar matematika orang akan belajar mengatur jalan pikirannya dan belajar menambah ilmu pengetahuan dan kepandaiannya. Para ahli pendidikan banyak yang mendefinisikan tentang makna istilah matematika diantaranya:
Tambunan (2001:24) menyatakan bahwa matematika adalah angka-angka dan perhitungan yang merupakan bagian dari hidup manusia. Matematika menolong manusia menafsirkan secara eksak berbagai ide kesimpulan-kesimpulan. sementara Hudoyo (2001:96), mengemukakan bahwa hakekat matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur menurut urutan yang logis.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa matematika pada hakekatnya merupakan masalah yang berkenaan dengan struktur-struktur, ide-ide dan hubungan-hubungan yang diatur menurut aturan yang logis jadi matematika berkanaan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran matematika di-kembangkan berdasarkan atas alasan logis dengan menggunakan pembuktian deduktif oleh karena itu matematika sering disebut ilmu deduktif. Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa matematika berkanaan dengan ide-ide atau konsep abstrak yang tersusun secara interaksi dan penalarannya secara deduktif yang akan membawa akibat-akibat bagaimana terjadinya proses belajar matematika.

Pendidikan Matematika dan Pendektannya

“Change has to do with recognizing the value of options and with experiencing the fact that we are fully responsible for what we choose to do.”
- Ernst G. Beier
In this stage you finally do it. But you need to remember that action isn’t the first or the last step in a change. This is not the only stage where important changes happen. To get this far, you had to change your awareness, your emotions, and your self-image as you moved from each of the earlier stages to the next.

The goal in this stage is to change your way of thinking. You do this by:
  1. Learning how to relax when temptations are strong.
  2. Starting an exercise program.
  3. Learning effective “countering” techniques-thoughts and actions that keep you from falling into your old patterns.
How to defeat daily temptations
Countering is one of the most effective techniques in the cycle of self-change. It’s easier to promote the new behavior than to get rid of the old one. Trying too hard to break a habit is usually a recipe for failure. As long as you’re focused on trying to break the old habit, you’re like a soldier who is fighting with one hand tied behind his back.

Attacking the Problem

Sumber utama menjadi seorang muslim adalah berpedoman kepada al-Qur’an. Tentu saja al-Qur’an modal utama bagi seorang muslim. Melalui al-Qur’an seorang muslim dapat menentukan hidup ke jalan yang diridhai Oleh Allah Swt.
Hal ini penting, mengingat Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang absolut benar. Mengikutinya secara totalitas berarti menyiapkan diri dan keluarga dalam kebahagiaan. Dan, menolaknya, berarti menjerumuskan dir dan keluarga dalam kesengsaraan.

Oleh karena itu, mau bagaimanapun dunia ini diwarnai oleh hasil karya cipta manusia, seorang Muslim tidak akan pernah bergeser dari menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Islam, yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Termasuk dalam hal menentukan prioritas dalam mendidik anak.

Dalam masalah pendidikan, Islam meletakkan pendidikan ketauhidan (akidah) di atas segala-galanya. Dan, itulah yang Allah tekankan dengan menggambarkan betapa getolnya Nabi Ya’kub dalam masalah ini. Sampai ketika anak-anaknya pun dewasa, pertanyaan beliau adalah masalah akidah.

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan bahwa kewajiban orangtua adalah memberi wasiat kepada anak-anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata.

Hal ini memberikan petunjuk penting bahwa kewajiban utama orangtua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya akidah dalam sanubarinya, sehingga tidak ada yang disembah melainkan Allah Ta’ala semata.

Lantas, bagaimana cara kita menanamkan pendidikan akidah pada anak di zaman seperti sekarang ini?
Pertama, dekatkan mereka dengan kisah-kisah atau cerita yang mengesakan Allah Ta’ala.
Terkait hal ini para orangtua sebenarnya tidak perlu bingung atau kehabisan bahan dalam mengulas masalah cerita atau kisah. Karena, Al-Qur’an sendiri memiliki banyak kisah inspiratif yang semuanya menanamkan nilai ketauhidan.

Akan tetapi, hal ini tergantung pada sejauh mana kita sebagai orangtua memahami kisah atau cerita yang ada di dalam Al-Qur’an. Jika kita sebagai orangtua ternyata tidak memahami, maka meningkatkan intensitas atau frekuensi membaca Al-Qur’an sembari memahami maknanya menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Kalaupun dengan cara membaca ternyata masih belum bisa. Kita bisa menyiasatinya dengan membeli buku-buku kisah dalam Al-Qur’an. Jadi, orangtua jangan pernah membelikan anak-anaknya buku cerita, novel atau kisah apapun yang tidak mengandung nilai akidah. Lebih-lebih yang mengandung unsur mitos dan pluralisme-liberalisme.

Mengapa demikian? Orangtua mesti sadar bahwa anak-anak kita saat ini adalah target dari upaya sekulerisme peradaban Barat. Untuk itu, sejak dini, anak-anak kita sudah harus memiliki kekuatan akidah sesuai dengan daya nalar dan psikologis mereka. Oleh karena itu, tahapan dalam menguatkan akidah anak harus benar-benar kita utamakan. KH. Zainuddin MZ berpesan dalam salah satu pencerahannya, “Didik mereka dengan jiwa tauhid yang mengkristal di dalam batinnya, meresap sampai ke tulang sumsumnya, yang tidak akan sampaipun nyawa berpisah dari badannya, akidah itu tidak akan terpisah dari hatinya. Bahkan dia sanggup dengan tegar berkata, ‘Lebih baik saya melarat karena mempertahankan iman dari pada hidup mewah dengan menjual akidah.”

Kedua, ajak anak mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah langkah di atas, selanjutnya tugas kita sebagai orangtua adalah mengajak mereka untuk mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila anak kita belum baligh, maka aktualisasi akidah ini bisa dilakukan dengan mengajak anak ikut mendirikan sholat. Sesekali kita kenalkan dengan masjid, majelis taklim, dan sebisa mungkin ajak mereka untuk senantiasa mendengar bacaan Al-Qur’an dari lisan kedua orangtuanya.

Apakah tidak boleh dengan murottal melalui alat elektronik? Jika tujuan kita adalah mengajak, maka keteladanan jauh lebih efektif.
Adapun kala anak kita sudah baligh maka orangtua harus tegas dalam masalah akidah ini. Jika anak sudah berusia 10 tahun dan enggan mendirikan sholat, maka memberi hukuman dengan memukul sekalipun, itu dibolehkan.

Apabila anak kita perempuan, maka mewajibkan mereka berjilbab menjadi satu keniscayaan. Dan, itu adalah bagian dari aktualiasi akidah. Dengan demikian, sejatinya tugas orangtua dalam masalah akidah ini benar-benar tidak mudah. Sebab selain mengajak, orangtua juga harus senantiasa melakukan kontrol akidah anak-anaknya. Terlebih pengaruh budaya saat ini, seringkali menggelincirkan kaum remaja pada praktik kehidupan yang mendangkalkan akidah.

Ketiga, mendorong anak-anak untuk serius dalam menuntut ilmu dengan berguru pada orang yang kita anggap bisa membantu membentuk frame berpikir islami pada anak. 
Orangtua tidak boleh merasa cukup dengan hanya menyekolahkan anak. Sebab akidah ini tidak bisa diwakilkan kepada sekolah atau universitas. Untuk itu, orangtua mesti memiliki kesungguhan luar biasa dalam hal ini.

Menanamkan ketauhidan pada Anak

Related Posts